Kosmopolit Berduri
Kosmopolit mengangkasa, membungkam sejuta rasa
Dominasi emosi meledak, mematikan pondasi kehidupan
Suatu yang mulia dan berharga, tak lagi jadi permata
Ternyata benar, apa kata badai gelap kemarin, dirimu hanya pemakai topeng kepalsuan
Tabir telah tersingkap, cintamu tak suci nyatanya
Kau buat permainan, cintamu kau politik demi semata-mata kepentingan dan kepuasan
Kau hajar permata hati ini, hingga luka yang menyayat-nyatat
Kau buat langkah masa depanku berdarah-darah
Aku yang sudah terjatuh, terpuruk lebih dalam di ruang gelap dan pengap
Tapi, kau tiada peduli secuil pun penderitaan yang kualami atas perlakuanmu
Malah, dirimu melancarkan aksimu dengan pejabat petinggi negeri
Sekali lagi, demi kepentinganmu sendiri bukan mengabdi pada umat dan negara
Suatu keyakinan abadi, tiada pernah mengkhianati
Bahwa yang berpegang teguh pada kebenaran akan memenangkan segalanya
Aku tetap percaya, bahwa pertolongan Tuhan pasti mendekap
Kasih sayang-Nya akan menghibur, keterpurukan akan menjadi kejayaan
Memang suatu keniscayaan, bagaimanapun jalan hidupku telah tertulis olehnya
Mau tak mau aku pasti akan mengalami tragedi itu
Bukan salah siapa-siapa, namun ini bentuk kasih sayang Tuhan yang menyayangi hambah-Nya dengan diberikan pelajaran kehidupan
Komentar
Posting Komentar